Titik api meningkat, kebakaran hutan di Riau bisa meluas

Kepala
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Pekanbaru, Sugarin
mengatakan hasil pantauan satelit Terra Aqua , pihaknya mendeteksi adanya 186
titik panas di berbagai wilayah Riau.
"Dengan
tingkat ketepatan di atas 70%, maka diindikasikan ada 140 titik api," kata
Sugarin kepada wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan,
Secara
terpisah, Badan nasional penanggulangan bencana nasional (BNPB) memperingatkan
ancaman kebakaran hutan dan lahan makin nyata ke depan apabila masalah ini
tidak diantisipasi secara intensif.

Berdasarkan laporan sebuah lembaga riset, faktor manusia
merupakan penyebab kebakaran hutan di sejumlah provinsi. Lebih dari 90 persen
kebakaran hutan disebabkan karena manusia, atau sengaja dibakar.
Meskipun cuaca panas
dan kering memperparah dan memperluas titik api di sejumlah provinsi seperti
Riau, Jambi, dan Pontianak dan menyebabkan kabut asap pekat, pemantik apinya
adalah manusia.
Kebakaran
hutan adalah kejahatan terorganisasi karena lebih dari sembilan puluh persen
disebabkan manusia atau sengaja dibakar. Tujuannya membuka lahan perkebunan,”
kata peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR) Herry Purnomo di sela-sela Konferensi Jurnalis Sains
Indonesia di Bogor, pekan lalu. Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu
mengatakan pembakaran hutan merupakan cara yang paling murah untuk mengubah
lahan hutan menjadi kebun kelapa sawit, sekaligus mendongkrak harga lahan. iset
CIFOR mencatat bahwa terjadi kenaikan harga lahan sekitar Rp 3 juta setelah
pembakaran lahan. Sebelum terbakar, harga lahan berkisar Rp 8 juta, dan setelah
terbakar menjadi Rp 11 juta per hektar.
Setelah ditanami sawit,
harganya berlipat lagi, sekitar Rp 50 juta, dan bisa mencapai Rp 100 juta per
hektar apabila ditanami sawit bibit unggul. Saat
ini kelapa sawit menjadi "emas hijau" yang banyak diincar investor,
dari mulai perusahaan raksasa hingga investor perorangan karena merupakan
investasi paling menguntungkan.
Kerusakan dan kerugian
akibat pembakaran HUTAN OLEH MANUSIA

CIFOR
memaparkan risetnya di Riau tahun ini, bahwa kebakaran hutan di provinsi itu
melepaskan sekitar 1,5 hingga 2 miliar ton karbondioksida. Riau menyumbang 10%
emisi gas karbon nasional setiap tahunnya.
Kerugian
ekonomi akibat kabut asap mencapai sekitar Rp 20 triliun dalam dua bulan,
sedangkan Singapura mengklaim kerugian sekitar Rp 16 triliun. Pembakaran hutan
di Riau yang terus berlanjut juga akan berdampak pada krisis lingkungan yang
parah dan hilangnya sumber air bagi manusia karena wilayah itu tidak memiliki
gunung dan pegunungan yang berfungsi menyimpan cadangan air tanah. Air tanah
disimpan di hutan-hutan gambut. Karenanya, jika gambut terbakar dan kering,
maka hampir dipastikan cadangan air tanah di Riau juga kering. Ini bisa
mengancam peradaban,”

Secara
terpisah, peneliti ekologi tumbuhan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(LIPI) Yuni Setio Rahayu, menyebutkan bahwa kebakaran hutan berdampak serius
pada menyusutnya keragaman hayati dan keanekaragaman hewan langka di
Indonesia, yang jumlahnya paling banyak di dunia melebihi Brasil. Keragaman hayati hutan tropis, misalnya, memiliki lebih dari
260 spesies tanaman per hektar, belum termasuk spesies satwa. Namun, kebakaran
hutan dan pembukaan lahan secara tak terkendali setiap tahun mengancam
kepunahan berbagai ekosistem“Menurut riset LIPI di Kalimantan Tengah, dari
125 spesies tanaman hutan yang diidentifikasi, hanya 10 persen dari populasi
yang masih tersisa. Artinya, sebagian besar populasi musnah,” kata Yuni di
Cibinong Science Center. Selain pemusnahan langsung oleh api, kebakaran hutan
juga menyebabkan kepunahan spesies secara perlahan. Emisi gas karbon yang terus
meningkat juga menyumbang kenaikan suhu bumi dan pemanasan global. Pergeseran
cuaca, perubahan suhu, dan curah hujan akan menyebabkan spesies beradaptasi
ulang, yang tidak mampu akan punah,”

Kerugian akibat pembakaran hutan juga dirasakan oleh
umat manusia.khusus ya diriau.kegiatan belajar mengajar pun tergangu.dan
sekolah pun harus diliburkan..dalam jangka pendek asap akan mengiritasi membran mukosa tubu, mulai dari
mata, sampai saluran napas. Yang sudah
terkena asma bisa muncul serangan asma lebih sering alam jangka panjang,
rusaknya pusat pertahanan alami saluran napas ini akan . Akibatnya daya tahan
tubuh lebih lemah, kalau adau kuman yang berbahaya seperti mempermudah masuknya
kuman. Akibatnya tdaya tahan tubuh lebih lemah, kalau adau kuman yang berbahaya
seperti kuman TBC yang tadinya daya tahan tubuh.
TUMBUHAN PERTAMA YANG MUNCUL SETELAH
KEBAKARAN.

Setelah penggundulan hutan,dan juga akibat kebakaran Hutan atau LAHAN akibat ulah manusia. dengan sendirinya
hampir tidak ada biomasa yang tersisa yang mampu beregenerasi. Tetapi, tumbuhan
herba dan semak-semak muncul dengan cepat dan menempati tanah yang gundul.tumbuhan ini adalah tumbuhan yang pertama muncul saat setelah terjadi
kebakaran hutan / lahan.
Kurang dari satu tahun, tumbuhan herba dan
semak-semak digantikan oleh jenis-jenis pohon pionir awal yang mempunyai
ciri-ciri sebagai berikut: pertumbuhan tinggi yang cepat, kerapatan kayu yang
rendah, pertumbuhan cabang sedikit, daun-daun berukuran besar yang sederhana,
relatif muda/cepat mulai berbunga, memproduksi banyak benih-benih dorman ukuran
kecil yang disebarkan oleh burung-burung, tikus atau angin, masa hidup yang
pendek (7- 25 tahun), berkecambah pada intensitas cahaya tinggi, dan daerah
penyebaran yang luas. Kebutuhan cahaya yang tinggi menyebabkan bahwa tingkat
kematian pohon-pohon pionir awal pada fase ini sangat tinggi, dan pohon-pohon
tumbuh dengan umur yang kurang lebih sama. Walaupun tegakan yang tumbuh
didominasi oleh jenis-jenis pionir, namun pada tegakan tersebut juga dijumpai
beberapa jenis pohon dari fase yang berikutnya, yang akan tetapi segera
digantikan/ditutupi oleh pionir-pionir awal yang cepat tumbuh.


1. Hilang dan rusaknya
habitat satwa liar
Kebakaran hutan dan
lahan gambut mengakibatkan dampak negatif langsung bagi satwa-satwa tersebut
sehingga statusnya kini terancam punah. Hutan dan lahan gambut yang terbakar
juga tidak akan bisa dipulihkan seperti sedia kala, karena butuh ratusan tahun
untuk mendapatkan besar pohon serta keanekaragaman hayati yang biasa terdapat
alami di hutan tropis.
2. Meningkatkan emisi gas
rumah kaca penyebab perubahan iklim.
Lahan gambut dan hutan yang
secara alami merupakan tempat untuk menyerap gas CO2 bebas berlebih yang
terdapat di atmosfer, memiliki peran penting dalam mengendalikan perubahan
iklim. Apabila lahan gambut dan hutan terbakar maka justru akan melepaskan
karbon dan emisi gas lainnya ke udara sehingga berkontribusi dalam pemanasan
global yang kini terjadi di seluruh belahan dunia.
4. Merugikan negara secara ekonomi
Akibat asap yang mengganggu
wilayah sekitar lokasi hutan, banyak aktivitas manusia yang terganggu hingga
terpaksa berhenti mulai dari sekolah hingga perdagangan. Oleh karena itu juga
berdampak buruk pada perputaran ekonomi di wilayah sekitar, sehingga mengalami
kerugian. Selain ekonomi, asap yang sampai ke wilayah negara tetangga juga
dapat berakibat buruk bagi hubungan bilateral Indonesia.
Keterangan.
Penyebab kebakaran
hutan diantaranya adalah:
- Faktor alam misalnya karena
suhu pada musim kemarau yang sangat panas, sambaran petir, atau karena
aktivitas vulkanik dari gunung berapi (aliran lahar ataupun awan panas)
- Kecerobohan manusia, contohnya
adalah membuang puntung rokok sembarangan atau lupa untuk mematikan api
ketika melakukan perkemahan.
- Pembukaan lahan baru atau
membersihkan lahan pertanian dengan membakarnya, dan tindakan vandalisme.
- Ground fire/ kebakaran yang
terjadi di dalam tanah, biasanya terhadu di daerah yang memiliki tanah
gambut sehingga dapat menyulut terjadinya api terutama di musim kemarau
dengan suhu yang panas.
Dampak dari terjadinya
kebakaran hutan antara lain:
1.
Dapat menyebabkan tersebarnya emisi gas CO2ke atmosfer.
2.
Menyebabkan musnah nya satwa dan tumbuhan yang hidup di dalam hutan.
3.
Menyebabkan kegundulan hutan.
4.
Banjir menerjang yang dikarenakan kegundulan hutan.
5.
Kekeringan mengancam karena berkurangnya sumber air.
6.
Berkurangnya hingga musnah nya bahan baku untuk industri yang menggunakan
kayu atau bahan lainnya yang terdapat di hutan sehingga pengusaha harus menutup
usahanya.
7.
Meningkatnya penderita infeksi saluran nafas dan kanker paru-paru terutama
untuk yang berusia lanjut dan anak-anak.
8.
Api yang menjalar dapat memusnahkan benda sekitarnya misalnya rumah.
9.
Asap yang timbul dapat mengganggu kehidupan sehari-hari misalnya
mempengaruhi jarak pandang ketika berkendara.
beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya kebakaran
hutan kembali adalah:
- Memuat peta tentang daerah yang
rawan terjadinya kebakaran.
- Memantau keadaan dan
tanda-tanda kebakaran.
- Memberikan penyuluhan tentang
pentingnya hutan.
- Melarang pembukaan lahan dengan
membakar hutan.
- Tidak membuang puntung rokok
sembarangan.